Skill-Based Hiring: Solusi atau Tantangan Baru untuk Generasi Muda?
Di
tengah persaingan dunia kerja yang semakin sulit, satu pertanyaan mulai sering
muncul: masih seberapa penting ijazah dalam menentukan masa depan dalam
berkarier?. Saat ini, banyak perusahaan tidak lagi fokus pada gelar sarjana
atau IPK tinggi. Sebagai gantinya, perusahaan mulai menerapkan pendekatan baru
yakni skill-based hiring, yaitu proses rekrutmen yang lebih mengutamakan
keterampilan nyata dibanding latar belakang pendidikan formal.
Pemerintah
Indonesia sendiri sedang menargetkan pembentukan 9 juta talenta digital hingga
2030. Untuk mewujudkannya, pemerintah menggandeng berbagai platform teknologi
seperti Microsoft, Google, IBM, Amazon, Alibaba, Huawei, dan ZTE untuk
pelatihan keterampilan digital. Namun sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan
ketimpangan. Data LPEM UI (2024) menyebutkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) Gen Z berada pada angka 9,37%. Banyak lulusan universitas justru
kesulitan mendapat pekerjaan karena tidak memiliki keterampilan yang sesuai
dengan kebutuhan industri. Kini, perusahaan lebih memprioritaskan pelamar
dengan kemampuan praktis dan siap terjun langsung ke lapangan, dibanding
sekadar mempertimbangkan gelar akademis semata.
Pendekatan
skill-based hiring muncul sebagai reaksi atas ketidaksesuaian antara output
pendidikan dan kebutuhan industri. Metode ini memungkinkan perusahaan menjaring
pelamar yang benar-benar memiliki kompetensi yang relevan, tanpa harus
bergantung pada latar belakang pendidikan formal. Pendekatan ini menjadi kabar
baik bagi generasi muda, khususnya mereka yang menempuh jalur non-formal
seperti kursus, bootcamp, atau pembelajaran mandiri.
Tak
hanya itu, LPEM UI menyebut adanya skill mismatch atau ketimpangan antara
keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan yang dibutuhkan pasar. Ini
memperlihatkan bahwa kurikulum pendidikan tinggi masih belum sepenuhnya
fleksibel terhadap kebutuhan industri yang terus berubah. Banyak mahasiswa yang
hanya mengandalkan teori tanpa pengalaman praktik yang sepadan dengan kebutuhan
kerja.
Di
era sekarang, ijazah bukan lagi menjadi tolak ukur utama dalam mendapatkan
pekerjaan. Perusahaan lebih mempertimbangkan portofolio, soft skill, dan
kemampuan menyelesaikan masalah secara nyata. Dunia kerja menuntut individu
yang siap terjun langsung ke lapangan, bukan sekadar menguasai teori
pengetahuan saja.
Skill-based
hiring menawarkan peluang baru bagi generasi muda untuk
bersaing di dunia kerja secara lebih adil. Sistem ini membuka jalan bagi siapa
pun yang punya keterampilan, meskipun tanpa latar belakang pendidikan tinggi.
Namun, peluang ini hanya bisa dimanfaatkan jika mahasiswa dan fresh graduate
bersedia untuk keluar dari zona nyaman dan mulai membangun keterampilan yang
langsung bisa diterapkan di lapangan.
Mahasiswa
perlu sadar bahwa masa depan karier tidak hanya ditentukan oleh nilai atau
gelar, tetapi juga oleh sejauh mana mereka mampu mengasah skill,
membangun portofolio, dan mengembangkan soft skill. Kampus pun
diharapkan mampu beradaptasi dengan menyediakan ruang belajar yang lebih
berbasis praktik, serta mampu membuka jalan bagi mahasiswa untuk masuk ke dunia
industri.
Selain
mendorong mahasiswa untuk lebih siap kerja, penerapan sistem skill-based
hiring juga menuntut peran aktif dari lembaga pendidikan. Perguruan tinggi
seharusnya tidak hanya menekankan teori akademik, tetapi juga memberikan ruang
untuk eksplorasi keterampilan melalui program magang, project
kolaboratif, hingga kerja lapangan. Hal ini penting agar mahasiswa tidak hanya
menjadi “siap lulus”, tapi juga “siap kerja”.
Di
sisi lain, perlu juga keterlibatan dari pemerintah dan pelaku industri untuk
terus membangun kolaborasi antara pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.
Kebijakan yang mendorong pelatihan berbasis keterampilan dan pembukaan akses ke
platform pembelajaran digital akan sangat membantu menyiapkan generasi
muda menghadapi transformasi dunia kerja yang semakin cepat dan kompetitif.
Penulis
: Dyah Eka Daniyanti (L1B022044)
REFERENSI
CNBC
Indonesia. (2025, 17 Februari). Kejar Target 9 Juta Talenta Digital 2030,
Pemerintah RI Lakukan Ini. Diakses pada 20 Juni 2025 dari
Hanri,
M. & Sholihah, N.K. (2024). Potret Gen Z yang Menganggur: Mengungkap
Realita di Balik Angka. LPEM FEB UI, 5(9) 1-9.
Kompasiana.
(2025, 21 Mei). Ijazah Bukan Lagi Penentu Kesempatan Bekerja, Berdampakkah?.
Diakses pada 20 Juni 2025 dari
Kompas
TV. (2022,3 Agustus). Lulusan Universitas Menganggur dan Sulit Dapat Kerja
Disebut karena Tak Punya Skill Khusus. Dikases pada 20 Juni 2025 dari
Talentics. (2023, 4 September). Solusi “Skill Based Hiring” untuk Proses
Rekrutmen. Diakses pada 20 Juni 2025 dari https://www.talentics.id/resources/blog/skill-based-hiring/
Comments
Post a Comment